Cerita Panjang Penderitaan di Arakan

by yusufsaefudin / Oct 12, 2017 / 0 comments

Gambar memilukan digores anak-anak pengungsi Rohingya yang menunjukan kekerasan yang dilakukan militer Myanmar. Manzur Ali yang berusia 11 tahun menggambar bagaimana rasanya harus meninggalkan desanya di Boulibazar, Myanmar. Gambar itu mengilustrasikan seorang laki-laki menarik kepala seorang wanita Rohingya.

Gambar lainnya juga menunjukkan orang-orang dicekik dan ditembak dari sebuah helikopter. Lain lagi dengan Kurshida (12 tahun) yang menggambarkan rumahnya terbakar, begitu pula adik perempuannya yang baru lahir ditembak.

Gambar mereka mengungkapkan kenyataan yang menghancurkan di balik kekerasan demi kekerasan yang terjadi di negara bagian Rakhine. Bukan hanya kali ini saja terjadi, namun sejak beberapa dekade silam.

Sebelum dan sesudah merdekanya negara Myanmar (dulu bernama Burma) dari Inggris pada 4 Januari 1948 warga Rohingya kerap mengalami kekerasan dan diskriminasi. Keberadaan mereka tidak diakui sebagai saah satu etnis yang eksis di Myanmar dari 136 etnis yang ada. Ada saat keberadaan mereka diakui oleh Parlemen Myanmar, berpuluh tahun lalu.

Namun sejak UU Kewarganegaraan Myanmar dilahirkan tahun 1982, Rohingya sama sekali dikeluarkan sebagai salah satu etnis yang diakui pemerintah Myanmar. Akibatnya, mereka pun tidak diakui sebagai warganegara Myanmar (stateless).

Heru Susetyo, akademisi UI yang menaruh minat pada isu HAM, khususnya Rohingya menguraikan, istilah ‘Rohingya’ sendiri sebenarnya bukanlah identitas etnis. Lebih tepat sebagai identitas politik dan label yang disematkan oleh Francis Buchanan Hamilton, dokter Inggris yang mengunjungi daerah Chittakaung pada akhir abad 18 untuk menyebut entitas muslim Arakan.

“Tidak ada makna yang jelas tentang apa arti kata ‘Rohingya’ selain bahwa ia adalah label dan identitas untuk warga muslim Arakan tersebut,” urainya dalam buku “Rohingya; Suara Etnis yang tidak boleh Bersuara”.

 

sumber : http://www.kbknews.id/2017/10/09/cerita-panjang-penderitaan-di-arakan/